Senin, 24 November 2014
Pengujung Hari ini : 117Total Pengunjung : 80156
 
Tuesday, 28 May 2013

Era tahun 80-90, nama Boedoet begitu wangi. Namanya tentu tak asing lagi bagi banyak orang, apalagi bagi pelajar. Tak hanya di Jakarta. Namun, di sejumlah kota-kota luar Jakarta; seperti Bekasi, Bandung, Cirebon, Jogja, Medan, dan daerah lain. Coretan piloknya pun sampai ke puncak-puncak gunung.

Boedoet adalah sekolah legenda di Jakarta. Nama Boeodet diambil dari nama jalan: Jalan Boedi Oetomo 7, Jakarta Pusat. Letaknya tak jauh dari Masjid Istiqlal, Monas dan Istana.

Dulu, di Jalan Budi Utomo ini ada STM N 1, STM PGRI 4, STM N 5, STM PGRI 4 dan SMA N 1. Saat itu, keharuman nama sekolah-sekolah di sana diasosiasikan sebagai hal negatif. Raja tawuran, hobi berantem. Tapi, itu dulu. Dulu sekali. Saat ini, nama Boedoet masih tetap wangi. Selalu membumi. Tentu saja kewangiannya bukan lagi negatif.

Penggagas Deklarasi STOP TAWURAN

Para alumninya pun memberi perhatian penuh kepada Boedoet. Mereka beradzam kuat ingin menjadikan sekolah legenda itu mampu menebar maslahat bagi bangsa ini. Salah satunya, seperti agenda akhir pekan 29/9 kemarin. Siswa, sekolah, dan alumni Boedeoet menggagas gerakan moral dengan aksi damai bertajuk: Stop Tawuran Pelajar Indonesia!

Agenda ini digagas pihak SMK N 1 Jakarta, IKAT 1 JAKARTA (Ikatan Alumni Teknik STMN/SMKN 1 Jakarta, Fokat (Forum Komunikasi dan Silaturahmi) Boedoet 145 serta seluruh alumni Boedoet.

Aksi damai itu dimeriahkan sejumlah rangkaian acara: Orasi dari alumni dan perwakilan sekolah yang hadir, theatrikal oleh Petruk Vannolnam alumni STM PGRI 4 tahun 1989, penyalaan lilin tanda duka, pembacaan doa untuk kawan-kawan Boedoet yang telah mendahului dan khususnya para pelajar korban tawuran. Sekaligus pernyataan sikap bersama dari para Alumni Boedoet dan para undangan sekolah lain.

Deklarasi Stop Tawuran ini menghasilkan tujuh poin yang tertuang dalam berkas pernyataan sikap Aliansi Alumni Pelajar Jakarta. Dalam dokumen itu tertulis, “Kami sebagai alumni diperhadapkan dengan figur yang meninggalkan warisan keburukan; yaitu TAWURAN.” Sebagai salah satu yang dimiliki, para alumni berkomitmen memutus rantai komando dari senior ke junior dalam konteks kebiasaan.

Tujuh butir pernyataan sikap Aliansi Alumni Pelajar Jakarta, yakni: 

Pertama, mengimbau pada seluruh alumni pelajar agar bekerjasama menghentikan budaya tawuran dan membentuk wadah alumni di masing-masing almamater.

Kedua, meminta seluruh pelajar memelihara kerukunan, perdamaian dan persaudaraan. 

Ketiga, meminta pihak kepolisian agar mengambil tindakan cegah tangkal; bukan kejar tangkap. Karena adik-adik pelajar selain berkewajiban menjaga nama baik sekolah; mereka juga punya hak untuk mempertahankan dan membela diri.

Keempat, mendesak pihak kepolisian untuk melakukan jadwal sweeping ke berbagai sekolah dan titik tongkrongan yang terindikasi berkumpulnya pelajar yang suka tawuran. 

Kelima, meminta pemerintah melakukan tindakan komprehensif dan sungguh-sungguh dalam menangkal tawuran. Dengan kata lain, tidak tanggung-tanggung atau hanya mencari isu seksi/populer.

Keenam, meminta pihak sekolah melakukan tindakan sanksi yang sesuai, namun tetap memprioritaskan pengarahan dan pengaturan. Sebab, bisa saja pelajar yang tertangkap berada dalam posisi membela diri.

Poin ketujuh, “Kami Aliansi Alumni Pelajar Jakarta meminta maaf yang sebesar-besarnya kepada orangtua kami, kepada guru, pada orangtua pelajar yang menjadi korban, guru-guru kami dan masyarakat pada umumnya.” Pernyataan sikap itu ditanda tangani Ketua Panitia Malam Renungan Aliansi Alumni Pelajar Jakarta, Otoie Hartoyo.  

 

Dulu Musuh, Kini Sahabat

Ada yang menarik dari agenda dekalarasi damai bertajuk : Stop Tawuran Pelajar Indonesia! Di sana, berkumpul pelajar dari sekolah-sekolah yang dulunya bertikai. Seperti sekolah penerbangan yang sering dikenal Kapal, ada pula Poncol, dsb. Sekolah itu dulunya menjadi musuh bebuyutan Boedoet. Tapi, dulu.

Sekarang, di ajang deklarasi mereka justru berkumpul dan berpose bersama antara siswa dan para alumninya. Para pelajar yang hadir dalam agenda itu berasal dari perwakilan BOEDOET 145, ST. JOSEP ( ISRAEL ), BAHARI ONE 45, PONCOL, KAPAL BLOK M/ HALIM, BONSER 3, 14 KMY, 12 PLO, KAPIN 45. Ada pula perwakilan dari TAMSIS 44, 8 CP, GRAFICA, BOEDOET 6 DEPOK, ZACK ONE, SMA 6, 1 DKI, 6 KR, KG, RISTEK, LAOET, 1 KZ, dan RESPEC.,hangat bgt suasananya gan semua bendera sekolah bersatu,,bendera ISRAEL,DOSQ,TAMSIS dll bersatu di bawah bendera merah putih bahkan ada yang membawa foto Alm.ALAWY pelajar yang baru2 ini diberitakan meninggal .


 

 

Mereka yang mulai mereka yang menyelesaikan.. Salah satu jiwa ksatria ..

Semoga diikuti oleh yang lain dan tidak hanya slogan

sumber :
http://forum.detik.com/boedoet-dulu-biang-tawuran-sekarang-penggagas-stop-tawuran-t532324.html

sumber video :
http://www.youtube.com/watch?v=xoRds6HgwFA


 
 

SMK Negeri 1 Jakarta

Jl. Budi Utomo No. 7, Sawah Besar - Jakarta Pusat 10710 Telp (021) 381 3630
Website : www.smkn1jakarta.net | Email : [email protected]
smknsatujakarta smknsatujakarta smknsatujakarta